Suara itu lagi. Bokep Rusia Penisku tegang seperti mainan anak-anak yg dituip melembung. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Ayo. Hidungnya tdk mancung tetapi juga tdk pesek. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Masih ada esok. Aq masih di atas angkot. Bau tubuh wanita setengah baya yg yg meleleh oleh keringat. Kring..! Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Masih ada esok. Turun tdk, turun tdk, aq hitung kancing. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yg datang, baru aq saja. Atau apalah? Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah. Turun tdk, turun tdk, aq hitung kancing. Yes.., akhirnya. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aq kalah lawan kancing.




















