Ia.Pagi menjelang. “Shit,” bisikku, membuka mata, menundukkan tubuhku, lalu menciumi buah dadanya. Ruang bokep Aku tertawa melihatnya. Kuangkat tubuhku ke atasnya, dengan sebelah kaki menopang di sofa, dan sebelah lagi menopang di lantai. Tapi rasa jengkelku sudah hilang. Tubuhnya lalu bergerak ke kiri dalam ayunan yang lembut. “Aku…”
“Ssshhh,” jemari telunjuknya menempel di bibirku. Aku terbangun dengan tubuh tertekuk, telanjang dan pegal, mendapati dirinya tak ada di sampingku. Ia mirip omong kosong angin yang berlalu setelah menghembus di sisi wajahku. “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku lirih. Tak berapa lama kemudian, alunan instrumental Oriega mengalun. Nafsuku tak tertahan lagi, kuputar tubuhku menghadapnya, dan kupeluk ia. Saat aku memindah perseneling, jemarinya terangkat dan menggenggam pergelangan tanganku. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. Kurasakan kehangatan kulitnya dan kelembutan tubuhnya membuatku nyaman.




















