Ia menjerit-jerit dan mencakar
tangan dan dadaku. Bokeb Kupukuli dada, perut dan mukanya hingga ia jatuh lemas dengan muka sembab. Kulihat wajah cantiknya yang bersimbah peluh masih pingsan, tampak tak berdaya, nafsuku timbul lagi. Sisanya yang mengalir keluarkuambil dan kulapkan di susudan perutnya. Kucuci cetak foto itu dan kutunjukkan ke Ai Ling tiga hari kemudian pada saat ia masuk kuliah. Jangan sakiti saya!” kata Ai Ling meratap mohon ampun. TAMAT,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Sekarang kita masuk mobil, lu yang mengemudi dan
ingat, pisau ini siap ngeluarinusus lu kalo lu macem-macen di jalan!” ancamku. Ia berteriak kesakitan karena ukuran batang kemaluanku yang besar itu dan dengan kalap mencakar dan memukul mukaku. Tiba-tiba aku teringat, Ai Ling bisa sadar kapan saja dan meronta-ronta.




















